Selamat Tahun Baru 2021: Akankah COVID-19 Segera Berlalu?

Dari covid-19, kita belajar untuk lebih menghargai betapa pentingnya kolaborasi dari setiap profesi. Dokter, perawat, apoteker dan petugas farmasi, analis lab, radiografer, ahli gizi, petugas laundry dan sterilisasi, security, driver ambulans, cleaning service, petugas rekam medis, staf admin, dan tentunya pemangku kebijakan di manajerial rumah sakit; semua memegang porsi perannya masing-masing.

Tidak mungkin seorang dokter, memasukkan semua injeksi obat sendiri pada 75 pasien covid-19 yang dirawat di sebuah rumah sakit, mengganti infus, melayani panggilan telepon 24 jam dari pasien dan keluarga pasien, melakukan observasi tanda vital seperti tekanan darah, nadi, suhu tubuh, dan laju nafas, dst (dengan memakai hazmat pelindung diri)… dijamin, tidak sampai 1 hari mengerjakan semua itu sendiri, sudah pingsan duluan!! Dan bisa dipastikan, semua layanan lain (poli, perawatan pasien di sal non-isolasi, dll) akan terbengkalai. Begitu pula sebaliknya, tim perawat tidak akan dapat memberikan aktualisasi terapi, bila tidak ada assessment diagnosis dan rencana tatalaksana dokter. Tidak akan tegak diagnosis covid-19 tanpa X-Ray maupun CT thorax oleh tim radiologi serta pemeriksaan swab PCR maupun rapid test oleh laboratorium… dan, tidak akan terpenuhi terapi medikamentosa tanpa pengadaan obat dari teman-teman farmasi.

previous arrow
next arrow
Slider

Bahkan, tidak akan nyaman sebuah ruangan isolasi, tanpa mbak-mas cleaning service yang dengan telaten menyapu, mengepel, membersihkan sisa-sisa makanan, tissue, plastik, pampers yang tercecer di bed.. meja.. maupun lantai. Belum lagi, menggosok toilet-toilet pasien di ruang isolasi yang tidak selalu bisa dijamin kebersihannya, karena biasanya pasien-pasien covid-19 sudah gupuh duluan dengan nafasnya saat ke kamar mandi (karena ngos-ngosan). Emangnya gampang?? Jelas ndak. Karena ngepel dan jongkok-jongkoknya ini pakai boots, hazmat, faceshield, dan goggle (yang seringkali mengembun, dan bikin tetesan keringat sendiri terasa pedih di mata dan asin di mulut); bisa dipastikan.. pasti sumuk, panas, dan menguras kesabaran.

Meski masih ada saja keluarga pasien yang menganggap keluarga mereka dicovidkan, pemahaman masyarakat tentang covid-19 sudah lebih baik. Sangat berbeda dengan ketika awal pandemi, saat banyak sekali cuitan miring yang menganggap covid-19 hanya konspirasi politis dan untuk kepentingan profit rumah sakit. Mungkin karena kita mulai sadar bahwa covid- 19 sudah menjangkiti orang-orang terdekat, baik sahabat, tetangga, penjual buah langganan di pasar, sepupu, keponakan, menantu, hingga ibu bapak atau anak sendiri. Bahkan bisa jadi, mereka yang awalnya tidak percaya, justru terpapar dengan gejala berat dan akhirnya baru menyadari bahwa covid-19 ini nyata.. bahwa Indonesia, sedang tidak baik-baik saja.

Meski sambat itu manusiawi, selalu saja ada keceriaan dan cerita-cerita baru di ruang isolasi. Saya pribadi di tengah visite, sangat kagum pada mbak mas perawat yang saling lepas curhat dengan berbinar-binar bahwa semalam ada pasien baru dengan saturasi datang yang hanya 50-an% dengan kesadaran menurun, apatis, yang kemudian membaik di pagi harinya setelah dipasangkan alat bantu nafas; bahwa pasien yang kemarin kejang-kejang sudah tidak lagi muncul kejangnya, bahwa pasien A sudah bisa pup setelah 14 hari tidak bisa buang air besar; bahwa pasien-pasien ICU isolasi covid-19 yang selama 3 minggu lamanya miring membalikkan badan sendiri saja tidak kuasa, bicara pendek pun megap-megap, dan yang bila sungkup NIV ventilator-nya melorot sedikit saja sudah membiru wajahnya selama badai sitokin, ternyata lambat laun sudah tersenyum dan mengucap terima kasih. Sesederhana cerita bahwa pasien B sudah mau diajak joget senam pagi padahal sebelumnya betul-betul diajak bicara tidak mau (mutisme) karena ndak terima dimasukkan ke ruang isolasi, padahal ya jelas- jelas PCR-nya positif; bahwa sejak semalam tidak berhenti tangan menulis laporan di status rekam medis, membuat kronologis, mengangkat video-video call pasien yang sekedar ingin dibetulkan selang kateternya, minta diambilkan pesanan nasi gorengnya di pos security, atau menanyakan apa sudah selesai laundry-an sarungnya; dan meladeni telepon-telepon keluarga pasien yang menanyakan update ibu bapaknya, pertanyaan dokter penanggung jawab tentang kondisi terbaru pasien bila ada kegawatan tertentu, belum lagi pe-er dari manajemen rumah sakit tentang pelaporan ini dan itu yang bejibun; betul-betul multi-tasking dan anti-sambat!

 Yang kadang bikin nelangsa itu kalau ada pasien yang sudah diladeni sepenuh hati, disuapi, diajak bicara, dipasangkan alat bantu nafas sampai dia bisa tidur enak.. lalu mendadak tiba-tiba lupa, whatsapp ke keluarganya di rumah karena merasa tidak diapa-apakan (kalau bahasa trend sekarang mungkin disebut “halu”), bahkan upload foto ini itu ke media sosial yang potensial menimbulkan fitnah. Kami marah? Tidak.. karena sangat paham bahwa ada yang namanya gejala delirium pada pasien covid-19. Singkat cerita, bahwa pasien covid-19 dengan delirium ini cenderung sensitif, mudah tersinggung, swinging mood, gelisah, sulit fokus, cenderung mudah lupa, dan kadang sedikit berhalusinasi dengan bayang-bayang pikiran sendiri.

Baca Juga :  Survey Membuktikan, Orang Miskin Meninggal 10 Tahun Lebih Cepat

Selama pandemi, sudah tidak terhitung dengan benar-benar jelas lagi berapa jumlah mahasiswa pendidikan dokter pesialis (PPDS) yang terpapar covid, dokter jaga IGD dan spesialis yang harus dirawat dengan gejala ringan sampai berat (saking banyaknya!). Bahkan hingga akhir 28 Desember 2020 lalu, laporcovid19.org mencatat setidaknya sudah 523 tenaga kesehatan yang meninggal dunia akibat covid-19 (terdiri dari 233 dokter, 168 perawat, 69 bidan, 15 dokter gigi, 10 petugas laboratorium, 5 radiografer, 6 apoteker, dan tenaga kesehatan dengan kategori lainnya).

Bila ditanya apa ada rasa takut menelisik? Jelas ada, apalagi kami hanya manusia biasa.. Ibaratnya, berangkat melangkahkan kaki ke rumah sakit belakangan ini saja awang-awangen. Bukan semata-mata takut mati, tetapi karena lebih khawatir, bila lengah sedikit saja dan secara tidak sadar terpapar, maka orang-orang terdekat yang akan menjadi korban: istri, suami, ibu, bapak, anak, dst. Sudah tidak satu dua pengalaman, dimana saat keluarga dari tenaga kesehatan ini harus dirawat di rumah sakit karena covid-19, mereka sendiri tidak dapat banyak membantu karena sama-sama sedang positif, dan sedang menjalani isolasi mandiri.

Miris, bila kami harus merawat sejawat sendiri, dengan kondisi atau prognosis yang kurang baik. Entah bagaimana perasaan seorang dokter spesialis anestesi yang harus memasang alat ventilasi invasif (intubasi) pada sesama sejawat tenaga kesehatan yang sedang mengalami desaturasi berat (penurunan kadar oksigen dalam tubuh derajat berat) dan tidak cukup tersupport baik dengan alat ventilasi non-invasif (NIV). Bagaimana mereka memberikan kesempatan untuk melakukan syahadat, dan sholat dua rakaat sebelum intubasi dilakukan, sedangkan hati nuraninya paham betul bahwa tidak ada yang bisa menjamin 100% bahwa setelah kontrol penuh nafas dengan intubasi, saudara sejawat ini akan kembali pulih.

Yah, saat ini Indonesia benar-benar butuh semangat dan optimisme. Bukan optimisme yang lantas cuek bebek nongkrong di warung cari sinyal wifi karena yakin tidak akan terpapar covid, tetapi optimisme berupa dukungan-dukungan positif yang edukatif, dan menggugah.

Senang rasanya melihat sudah semakin banyak komunitas penyintas covid-19 dan kelompok dukungan penyaluran donor plasma convalescent. Namun alangkah lebih baiknya, bila kemudian ada pula testimoni-testimoni positif dari para penyintas covid-19 yang bertahan setelah satu bulan lebih dirawat, bagaimana mereka dari yang awal mulanya bergejala ringan, kemudian masuk ke fase berat dan tidak sadarkan diri, hingga akhirnya kembali pulang berkumpul dengan keluarga. Betapa indahnya, bila setiap pasien kritis yang keluar dari rumah sakit dan sembuh dengan sehat ini bersedia berbagi cerita baik di grup percakapan desa, kantor, alumni sekolah, pengajian, dll.. dengan demikian, maka besar harapan bahwa stigma negatif covid-19 akan semakin berkurang, dan keterbukaan terhadap tracing kontak akan lebih baik.

Ke depan, tahun 2021 hampir dipastikan akan menjadi era vaksin covid-19. Masih banyak pro-kontra disana-sini, namun harus diyakini bahwa pandemi ini akan terlalui selama kita sungguh-sungguh berusaha, meluruskan hati, dan sama-sama berproses untuk memberikan peran yang terbaik sebagai tenaga kesehatan, pemangku kebijakan, ataupun sebagai masyarakat pada umumnya sebagai garda terdepan dalam pencegahan penularan covid-19. Setiap diri memiliki tanggung jawab masing-masing untuk setidaknya dengan sabar dan tertib menerapkan 3M: memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak; dalam periode yang mungkin masih sangat panjang. Bismillah,

dr. Revi Adheriyani, Sp.JP – FIHA

(Cardiologist di RSUD Dr. Wahidin Sudirohusodo, RS Gatoel, dan RSI Hasanah Kota Mojokerto)

Leave a Comment