Hampir separuh provinsi di Indonesia melaporkan adanya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Data dari November 2018 hingga sekarang, kasus DBD paling tinggi terjadi di Jawa Timur.

“Yang sudah pasti, kasus demam berdarah itu yang paling tinggi di Jawa Timur mencapai 1.634 kasus per tanggal 22 Januari 2019 jam 15.00,” kata Dr Siti Nadia Tarmizi M.Epid – Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik,, saat dihubungi melalui telepon oleh Health-Liputan6.com, Rabu (23/1/2019).

Kemudian disusul dengan Sulawesi Utara 720 kasus DBD. Jawa Barat 698 kasus, Nusa Tenggara Timur ada 521 kasus dan Kabupaten Manggarai Barat menyatakan KLB. Kemudian Jawa Tengah (521 kasus), Banten (349 kasus), Sulawesi Selatan (281 kasus).

Jika melihat data tahun lalu, biasanya bulan Februari terjadi penurunan kasus, karena sudah bisa dikendalikan.

“Sebenarnya kalau kita waspada, cepat melakukan pemberantasan sarang nyamuk maka jumlah (nyamuk) semakin sedikit sehingga kasus akan turun,” kata Nadia.

Baca Juga :  Peletakan Batu Pertama | Pembangunan Gedung Perpustakaan dan Kantor RSI Hasanah

Segera ke Puskemas Bila Demam

Mengingat tingginya kasus DBD di beberapa provinsi, Nadia mengingatkan masyarakat agar segera ke pusat layanan kesehatan seperti puskesmas, klinik, atau rumah sakit bila demam.

“Kalau demam 1-2 hari, segera ke puskemas untuk memastikan bukan demam berdarah,” pesannya

Gejala yang khas pada pasien DBD adalah demam tinggi sekitar 39 derajat Celsius dan ada bintik merah. Namun, bisa juga demam yang tidak terlalu tinggi dan belum muncul bintik-bintik merah itu demam berdarah. Maka perlu pemeriksaan darah untuk memastikan apakah terkena demam berdarah atau bukan.

“Jadi, harus waspada bila demam di saat-saat ini, kemungkinan terjangkit penyakit demam berdarah lebih besar,” tandasnya. (adm/tgh)

 

Sumber : www.liputan6.com

Leave a Comment